Sunday, March 26, 2017

RANGKUMAN MODUL I PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA di SD



MODUL I 


Hakikat Bahasa

A.    Pengertian Bahasa
Pengertian bahasa yang telah dirumuskan beberapa ahli :
1.      Bahasa adalah sebuah simbol bunyi yang arbiter yang digunakan untuk komunikasi manusia(Wardhaugh, 1972)
2.      Bahasa adalah sebuah alat untuk mengomunikasikan gagasan atau perasaan secara sistematis melalui penggunaan tanda, suara, gerak atau tanda-tadan yang disepakati, yang memiliki makna yang dipahami (Webster’s New Collegiate Dictionary,1981)
3.      Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang dipergunakan oleh para anggota sosial utnuk berkomunikasi, bekerja sama dan mengidentifikasi diri (Kentjono, Ed.,1984:2)
4.      Bahasa adalah salah satu dari sejumlah sistem makna yang sdecara bersama-sama membentuk budaya manusia  (Halliday dan Hasan,1991)

Ada yang menekankan pada sistem, alat, dan juga pada komunikasi yang memiliki karakteristik sebagai berikut :
1.      Bahasa adalah sebuah sistem
Sebagai sebuah sistem, bahasa terdiri dari sejumlah unsru yang saling terkait dan tertata secara beraturan, serta memiliki makna.
Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang berkombinasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalkan. Sistematis artinya bahasa terdiri dari sejumlah subsistem, yang satu sama lain terkait dan membentuk satu kesatuan utuh yang bermakna.

2.      Bahasa merupakan sistem Lambang yang arbiter (mana suka) dan konvensional
Bahasa merupakan sistem simbol, baik berupa bunyi dan/atau tulisan yang dipergunakan dan disepakati oleh suatu kelompok sosial.
Sebagai sebauh simbol, bahasa memiliki arti. Mengapa harus dipelajari ?
Pertama      : Penamaan suatu objek atau peristiwa yang sama antara satu masyarakat bahasa denganmasyarakat bahasa lainnya tidak sama.
Kedua        : Bahasa terdiri dari aturan-aturan atau kaidah yang disepakati
Ketiga        : Tidak ada hubungan langsung dan wajib antara lambang bahasa dan objeknya.
Hubungan keduanya bersifat mana suka (arbiter)

3.      Bahasa Bersifat Produktif
Fonem dan pola dasar kalimat dalam bahasa Indoensia begitu terbatas. Justru dari keterbatasannya itu dapat dihasilkan satuan bahasa dalam jumlah yang tak terbatas. Kita dapat membentuk ribuan kata, kalimat atau wacana dengan segala variasinya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat penggunanya.

4.      Bahasa memiliki Fungsi dan Variasi
Bahasa memiliki fungsi sebagai alat komunikasi. perbedaan penggunaan bahasa oleh suatu kelompok itu disebut variasi atau ragam bahasa. Sementara itu, setiap kelompok itu terdiri dari sejumlah anggota pengguna bahasa. Disadari atau tidak, masing-masing individu memiliki kekhasan tersendiri yang tercermin dalam bahasa yang digunakannya. Keseluruhan ciri bahasa orang per orang disebut idiolek.

B.     Fungsi Bahasa
Secara umum bahasa memiliki fungsi personal dan sosial. Fungsi personal mengacu pada peranan bahasa sebagai alat untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan setiap diri manusia sebagai makhluk individu.
Adapun fungsi sosial mengacu pada peranan bahasa sebagai alat komunikasi dan berinteraksi antarindividu atau antarkelompok sosial.
Halliday (1975, dalam Tompkins dan Hoskisson,1995) secara khusus mengidentifikasi fungsi-fungsi bahasa  sebagai berikut :
1.      Fungsi personal, yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan pendapat, pikiran, sikap atau perasaan pemakainya
2.      Fungis regulator, yaitu penggunaan bahasa untuk mempengaruhi sikap atau pikiran/pendapat orang lain, seperti bujukan, rayuan, permohonan atau perintah
3.      Fungsi interaksional, yaitu penggunana bahasa untuk menjalin kontak dan menjaga hubungan sosial, seperti sapaan, basa-basi, simpati atau penghiburan
4.      Fungsi Informatif, yaitu penggunaan bahasa untuk menyampaikan informasi, ilmu pengetahuan atau budaya
5.      Fungsi heuristik, yaitu penggunanan bahasa bahasa untuk belajar atau memperoleh informasi, seperti pertanyaan atau permintaan penjelasan atas sesuatu hal
6.      Fungsi imajinatif, yaitu penggunaan bahasa untuk memenuhi dan menyalurkan rasa estetsi (indah), seperti nyanyian dan karya sastra
7.      Fungsi Instrumental , yaitu penggunaan bahasa untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhan pemakainya, seperti saya ingin ...

C.    Ragam Bahasa
Ragam bahasa adalah variasi penggunaan bahasa yang disebabkan oleh pemakai dan pemakaian bahasa. Dari segi pemakai atau penutur bahasa, ragam bahasa dapat diklasifikasikan berdasarkan pada :
1.      Daerah asal penuturan atau pemakai bahasa
2.      Kelompok sosial, dan
3.      Sikap berbahasa
Sementara dari sudut pemakaian bahasa, klasifikasi ragam bahasa dapat dilakukan berdasarkan pada :
1.      Bidang atau pokok persoalan yang diperbincangkan
2.      Sarana atau media yang dipakai
3.      Situasi atau kondisi pemakaian bahasa



Warna atau ciri berbahasa Indonesia dari suatu kelompok masyarakat yang berasal dari suatu suku atau daerah tertentu menghasilakan suatu ragama bahasa Indonesia yang disebut dengan ragam bahasa daerah atau dialek geografi.
Dari segi kelompok sosial, ragam bahasa dapat kita bedakan berdasarkan :
1.      Kedudukan pemakai bahasa;
2.      Jenis pekerjaan
3.      Pendidikan

Konsep kedudukan mengacu pada status sosial yang disandang pemakai bahasa di tengah-tengah masyarakatnya. Sebagaimana digambarkan pada skema sebelumnya, ragam bahasa Indonesia juga dapat dikelompokkan menurut pemakainya, yang terdiri dari (1) bidang atau pokok persoalan yang dibicarakan, (2) Sarana atua media yang digunakan dalam berbahasa, serta (3) situasi pemakainya.
Ragam bahasa berdasarkan situasi penggunaannya melahirkan istilah ragam resmi dan tak resmi. Sesuai dengan namanya, ragam bahasa resmi digunakan dalam situasi formal, seperti pidato kenegaraan, karya ilmiah, surat dinas, dan dokumen pemerintah atau organisasi. Sementara itu, ragam tak resmi digunakan dalam situasi berbahas yang santai dan akrab. Misalnya dalam percakapan antara penjual dengan pembelio, anggota keluarga, teman sejawat, surat-surat pribadi, dan acara rekratif atau hiburan.

Dalam memahami masalah ragam bahasa ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
Pertama               : batas antarragam itu dalam kenyataan berbahasa tidaklah setegas dan sejalas.
Kedua                 : dalam suatu peristiwa bahasa, hampir tidak pernah seorang pemakai bahasa hanya menggunakan satu ragam bahasa.
Ketiga                 : tak ada satu ragam pun yang lebih baik atau lebih buruk. Semua ragam bahasa itu baik, justru harus dapat memilih ragam bahasa yang paling sesuai dengan kebutuhan dan tujuan berbahasa.















Hakikat Pembelajaran Bahasa

A.    Konsep Belajar
Belajar adalah sebuah proses penambahan bagian demi bagian informasi baru terhadap apa yang telah mereka ketahui dan kuasai sebelumnya. Pengetahuan dibangun siswa melalui keterlibatan mereka secara aktif dalam belajar atau apa yang dikenal dengan istilah John Dewey “belajar sambil berbuat (learning by doing). Jadi keberhasilan pembelajaran tidak terletak pada seberapa banyak materi atau informasi yang disampaikan guru kepada siswa.
Padahal, ukuran utama keberhasilan pembelajaran terletak pada seberapa jauh guru dapat melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Siswa belajar dengan menggunakan tiga cara, yaitu melalui pengalaman (dengan kegiatan langsung atau tidak langsung), pengamatan (melihat contoh atau model), dan bahasa.
Implikasinya bagi guru dalam pembelajaran adalah :
Pertama             : karena siswa belajar berdasrkan apa yang telah dipahami atau dikuasai sebelumnya maka, guru hendaknya mengupayakan agar pembelajaran bertolak dari apa yang telah diketahui siswa.
Kedua               : karena belajar dilakukan secara aktif oleh siswa melalui kegiatan atau pengalaman belajar yang dilaluinya maka siswalah yang berperan sebagai pusat pembelajaran.
Ketiga               : dalam belajar siswa perlu berinteraksi dengan yang lain serta dukungan guru dan temannya maka guru perlu merancang kegiatan belajar bukan hanya dalam bentuk klasikal atau individual, tetapi juga dalam bentuk kelompok.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku siswa melalui latihan dan pengalaman yang dilakukannya secara aktif. Hasil belajar berupa pengetahuan, siap atau keterampilan yang dibangun siswa berdasarkan apa yang telah dipahami dan dikuasainya. Dalam pembelajaran tugas guru adalah menjadikan siswa belajar melalui penciptaan strategi dan lingkungan belajar yang menarik dan bermakna.

B.     Belajar Bahasa
Anak-anak itu belajar dan menguasai bahasa tanpa disadari dan tanpa beban, apalagi diajari secara khusus. Mereka belajar bahasa melalui pola berikut.
1.      Semua komponen, Sistem dan Keterampilan Bahasa Dipelajari secara Terpadu
2.      Belajar bahasa dilakukan secara alami dan langsung dalam konteks yang otentik
3.      Belajar bahasa dilakukan secara bertahap, sesuai dengan kebutuhannya
4.      Belajar bahasa dilakukan melalui strategi uji coba (Troal-Error) dan strategi lainnya

C.    Pembelajaran Bahasa
Halliday (1979, dalam goodman,dkk.,1987) menyatakan ada tiga tipe belajar yang melibatkan bahasa :
1.      Belajar Bahasa
Kemampuan ini melibatkan dua hal, yaitu (1) kemampuan untuk menyampaikan pesan, baik secara lisan (melalui berbicara) maupun tertulis (melalui menulis), serta (2) kemampuan memahami, menafsirkan dan menerima pesan, baik yang disampaikan secara lisan (melalui kegiatan menyimak) maupun tertulis (melalui kegiatan membaca).
2.      Belajar melalui  Bahasa
Seseorang menggunakan bahasa untuk mempelajari pengetahuan, sikap, keterampilan.
3.      Belajar tentang Bahasa
Seseorang mempelejari bahasa untuk mengetahui segala hal yang terdapat pada suatu bahasa, seperti sejarah, sistem bahassa, kaidah berbahasa, dan produk bahasa seperti sastra.

Apabila kita berbicara tentang kemampuan berbahasa maka wujud kemampuan itu lazimnya diklasifikasikan menjadi empat macam :
1.      Kemampuan Menyimak atau mendengarkan
Kemampuan memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara lisan oleh orang lain.
2.      Kemampuan berbicara
Kemampuan untuk menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain.
3.      Kemampuan Membaca
Kemampuan untuk memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara tertulis oleh pihak lain.
4.      Kemampuan menulis
Kemampuan menyampaikan pesan kepada pihak lain secara tertulis

Dari Penelitiannya Walter Loban (1976, dal;am Tomkins dan hoskisson, 1995) menyimpulan adanya hubungan antarketerampilan berbahasa siswa dan keterampilan berbahasa dengan belajar.
Pertama           : siswa dengan kemampuan berbahsa lisan (menyimak dan berbicara) yang kurang efektif cenderung kurang efektif puila kemampuan berbahasa tulisnya (membaca dan menulis)
Kedua              : terdapat hubungan yang kuat antara kemampuan berbahasa siswa dengan kemampuan akademik yang diperolehnya.

Paradigma atau cfara pandang pembelajaran bahasa di sekolah dasar adalah sebagai berikut :
1 .      Imersi, yaitu pembelajaran bahasa dilakukan dengan ‘menerjunkam’ siswa secara langsung dalam kegiatan berbahsa yang dipelajarinya.
2.      Pengerjaan (employment), yaitu pembelajaran bahasa dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan berbahasa yang bermakna, fungsional dan otentik.
3.      Demonstrasi, yaitu siswa belajar bahasa melaluio demonstrasi dengan pemodelan dan dukungan yang disediakan guru.
4.      Tanggung jawab (responsibility), yaitu pembelajaran bahasa yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih aktivitas berbahasa yang akan dilakukannya.
5.      Uji coba (trial-error), yaitu pembelajaran bahasa yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan dari perspektif atau sudut pandang siswa.
6.      Pengharapan (expectation), artinya siswa akan berupaya utuk sukses atau berhasil dalam belajar jika ada merasa bahwa gurunya mengharapkan dia menjadi sukses.

RANGKUMAN MODUL 11 DAN 12 PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA di SD



Pendidikan Bahasa Indonesia di SD Rangkuman
Modul 11
Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Fokus Berbicara

Kegiatan Belajar 1
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

Kimble (dalam Hergenhahn 1982) mengemukakan bahwa perubahan tingkah laku siswa setelah melaksanakan pembelajaran adalah kingkah laku yang relative permanen, tingkah laku yang diakibatkan oleh adanya penguatan (reinforcement) praktis, B.F Skinner menyatakan bahwa perubahan tingkah laku adalam pembelajaran dan tidak melalui proses yang dapat disimpulkan, sedangkan para ahli yang lain menyatakan bahwa perubahan tingkah laku merupakan akibat proses pembelajaran. Kecuali Skinner, para ahli berpendapat bahwa pembelajaran merupakan mediator perubahan tingkah laku.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah aktivitas yang sistemik, sistematis, dan terencana. Untuk mewujudkan ketiga karateristik pelajaran nahasa, terdapat beberapa masalah yang harus diantisipasi dan didudukkan secara proprsional. Permasalahan tersebut berkaitan dengan (1) tujuan pembelajaran, (2) materi pembelajaran, (3) strategi pembelajaran, (4) evaluasi, (5) pengajar (guru), dan (6) siswa.
Menurut kurikulum 2004, yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa berkomunikasi baik lisan maupun tulis, sebagai alat untuk mempelajari rumpun pelajaran lain, berpikir kritis dalam berbagai aspek kehidupan, serta mengembangkan sikap menghargai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan apresiatif karya sastra Indonesia (Mulyasa, 2003:89).  Agar anda dapat melaksanakan pembelajaran berbicara di SD, terlebih dahulu  anda pelajari tentang hal-hal berikut ini:
1.      Teori Berbicara
2.      Komponen Berbicara
3.      Hakikat Berbicara
4.      Jenis-jenis Berbicara

Berbicara di depan umum memerlukan teknik tertentu. Penguasaan teknik yang digunakan untuk menyajikan pikiran dan gagasan secara oral merupakan persyarakat yang harus dipenuhi oleh calon pembicara. Sebagai salah satu metode penyampaian lisan yang ditunjukkan kepada pendengar (khalayak). Ada beberapa persyarakatn untuk melatih kemampuan berbicara adalah sebagai berikut
1.      Memiliki Keberanian  dan Tekad yang Kuat
2.      Memiliki Pengetahuan yang Luas
3.      Memahami Proses Kominikasi Massa
4.      Menguasai bahasa yang Baik dan Lancar
5.      Pelatihan yang Memadai

Tarigan (1990:218) mengemukakan ciri-ciri oembicara yang baik, antara lain
1.      Pandai menemukan topic yang tepat dan up to date (terkini);
2.      Mangusai materi;
3.      Memahami pendengar;
4.      Memahami situasi
5.      Merumuskan tujuan dengan jelas;
6.      Memiliki kemampuan linguistic yang memadai;
7.      Menjalin kontak dengan pendengar;
8.      Menguasai pengdengar;
9.      Memanfaatkan alat bantu;
10.  Berperan meyakinkan; dan
11.  Mempunyai rencana
Pembelajaran keterampilan berbahasa pada hakikatnya merupakan upaya meningkatkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pelaksanaannya keempat keterampilan ini harus mendapatkan porsi pembelajaran yang seimbang dalam konteks yang alami. Pembelajaran yang di buat-buat akan menjadikan keterampilan yang dilatih terasa aneh dan bersifat artificial. Hal ini siswa harus dilakukan agar siswa
1.      Konsep Pembelajaran Berbicara Terpadu
2.      Isi/Aktivitas Pembelajaran Berbicara
Aktivitas pembelajaran terpadu dapat dilakukan dengan 3 tekni yaitu:
a.       Teknik terpimpin;
b.      Teknik semi terpimpin; serta
c.       Teknik bebas.

Tujuan orang berbicara adalah untuk menghibur, menginformasikan, menstimulasi, meyakinkan, atau menggerakan pendengar (Tarigan; 1990:177). Tujuan pembelajaran di SD dikelompokkan atas
(1)    tujuan pembelajaran berbicara didepan kelas rendah,
a.       Melatih Keberanian Siswa;
b.      Melatih Siswa Menceritakan Pengetahuan dan Pengalaman;
c.       Melatih Menyampaikan Pendapat;
d.      Membiasakan Siswa untuk Bertanya
(2)    tujuan pembelajaran berbicara didepan kelas tinggi.
a.       Memupuk Keberanian Siswa;
b.      Mengungkapkan Pengetahuan dan Wawasan Siswa;
c.       Melatih Siswa Menyanggah/Menolak Pendapat Orang Lain;
d.      Melatih Siswa Berpikir Logis; dan
e.       Melatih Siswa Menghargai Pendapat Orang Lain.

Kegiatan Belajar 2
Model Pembelajaran BI dengan Fokus Berbicara

Dalam proses pembelajaran, Coles (1995) menyatakan bahwa berbahasa lisan merupakan inti dari setiap kurikulum pengajaran. Pada kenyataannya sebagian besar kegiatan belajar dan mengajar dilakukan melalui media kominukasi lisan (Pollard dan Tann, 1993). Model pembelajaran BI dengan focus berbicara di sekolah yang satu dengan yang lainnya tentulah amat berguna. Ada hal-hal yang perlu anda perhatikan dalam pembelajaran berbicara antaralain (1) suasana belajar di sekolah (dikelas) dan (2) kegiatan berbicara.
Beberapa metode pembelajaran berbicara yang dapat diterapkan (Tarigan dalam Idra 2002: 56) adalah:
1.      Metode Ulang Ucap
2.      Metode Lihat Ucap
3.      Metode Memerikan
4.      Metode Menjawab Pertanyaan
5.      Metode Bertanya
6.      Metode Bertanya Menggali
7.      Metode Melanjutkan Cerita
8.      Metode Menceritakan Kembali
9.      Metode Bercakap-cakap
10.  Mereka Cerita Gambar
11.  Bercerita
12.  Memberi Petunjuk
13.  Metode Melaporkan
14.  Metode Wawancara
15.  Metode Diskusi
16.  Metode Bertelepon
17.  Metode Dramatisasi














MODUL 12 PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN FOKUS SASTRA
KB 1 Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia sengan Fokus Sastra di SD
A.     PENGERTIAN APRESIASI SASTRA
Secara umum, aperesiasi dapat diartikan sebagai peniaian yang baik atau penghargaan terhadap karya sastra. Menurut Gove apresiasi adalah makna pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin, dan pemahaman serta pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang di ungkapkan pengarang. Tarigan (2000), yang menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah penaksiran kualitas kerya sastra serta pengalaman yang jelas, sadar, serta kritis. S. Effendi (1982) berpendapat bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.
B.     HAKIKAT SASTRA ANAK
1.      Pengertian Sastra Anak
Kata Sastra berarti karya seni imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa ( Rene Wellek, 1989 ). Menurut Santoso (2003:8.3) Sastra anak adaah karya seni yang imajinatif dengan unsur estetisnya dominan yang bermediumkan bahasa, baik lisan atau tertulis yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak. Sarumpet (dalam Santoso, 2003:8.3), sastra anak adalah kaya sastra yang dikonsumsi anak diurus serta dikerjakan orang tua. Artinya sastra anak ditulis oleh orang tua yang di tujukan kepada anak dan proses produksinya pun dikerjakan oleh orang tua.
2.      Ciri Sastra Anak
Menurut Sarumpet (dalam Santoso, 2003:8.3), ada tiga (3) ciri yang membedakan antara sastra anak dengan sastra orang dewasa.
·         Pertama, unsur pantangan, yaitu unsur yang secara khusus berhubungan dengan tema dan amanat.
·         Kedua, penyajian dengan gaya secara langsung artinya tokoh yang diperankan sifatnya hitam putih.  
·         Ketiga, fungsi terapan adalah sajian cerita harus bersifat menambah pengetahuan yang bermanfaat.

3.      Jenis Sastra Anak
Jenis sastra anak, seperti halnya ada pada karya sastra umum, yaitu:
v  Puisi
v  Prosa
v  Dan drama

C.     PENGERTIAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DENGAN FOKUS SASTRA
Pembelajaran bahasa indonesia tidak dapat dilaksanakan secara terpisah, tetapi harus terpadu antara aspek keterampilan berbahasa, kebahasaan, dan sastra. Terpadu maksudnya adalah pembelajaran dapat difokuskan pada salah satu aspek saja, sedangkan aspek yang lain sebagai variasi kegiatan belajar siswa.
D.     TUJUAN PEMBELAJARAN SASTRA DIKELAS RENDAH
Tujuan pembeajaran sastra atau hasil belajar sastra yang akan dicapai kelas 1 SD adalah berikut ini.
1.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran mendengarkan adalah mendengarkan dongeng guru, menjawab pertannyaan, dan menceritakan kembali.
2.      Pembelajaran sastra terpadu dengan pembelajaran berbicara adalah:
a.       Mendeklamasikan puisi atau syair lagu dengan penghayatan dan ekspresi yang sesuai
b.      Memerankan tokoh tertentu dalam dongeng sesuai dengan karakternya.

Tujuan pembeajaran sastra atau hasil belajar sastra yang akan dicapai kelas 2 SD adalah berikut ini.
1.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran mendengarkan adalah menjelaskan isi dongeng yang telah didengar dan mengajukan pertannyaan.
2.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran berbicara adalah:
a.       Mendeklamasikan pantun dengan penghayatan yang sesuai dan ekspresi yang sesuai.
b.      Memerankan percakapan sesuai isi dan ekspresi yang tepat
c.       Mnceritakan kembali cerita yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri.
d.      Memerankan tokoh yang berkaitan dengan kehidupan sehari hari dengan menggunkan dialog sederhana.
e.       Memeran kan ekspresi emosional tertentu (marah, senang, sedih, haru, dll).
3.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran membaca adalah membaca puisi dengan penghayatan dan ekspresi yang sesuai.
E.     TUJAN PEMBELAJARAN SASTRA DIKELAS TINGGI
Tujuan pembeajaran sastra atau hasil belajar sastra yang akan dicapai kelas 3 SD adalah berikut ini.
a.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran mendengarkan adalah:
1)      Menanggapi tokoh-tokoh dalam cerita dari mendengarkan pembacaan cerita
2)      Menjelaskan isi teks drama yang dibacakan duru atau teman, kemudian memrankan tokohnya.
b.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran berbicara adalah:
1)      Memerankan tokoh dalam teks cerita sesuai dengan sifatnya dengan menggunakan kalimat sederhana.
2)      Memerankan tokoh sesuai dengan pekerjaan atau profesinya sesuai dengan sifatnya dengan menggunakan kalimat sederhan.
c.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran membaca adalah:
         1)      Membacakan dongeng dengan penghayatan dan ekspresi yang sesuai
        2)      Membacakan puisi dengan penghayatan dan menjelaskan isinya.

Tujuan pembeajaran sastra atau hasil belajar sastra yang akan dicapai kelas 4 SD adalah berikut ini.
a.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran mendengarkan adalah menyimpulkan isi pantun.
b.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran berbicara adalah
         1)      Menceritakan kembali isi dongeng dari hasil kegiatan membaca atau mendengarkan dengan bahasa yang runtut
         2)      Memerankan berbagai karakter tokoh dengan penghayatan.
c.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran membaca adalah:
        1)      Menjelaskan latar dongeng, tokoh, dan penokohan
         2)      Membacakan pantun secara berpasangan dengan lafal dan intonasi yang sesuai.
d.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran menulis adalah:
         1)      Menulis cerita rekaan berdasarkan pengalaman dengan bahasa yang runtut dengan menggunakan EYD yang tepat
        2)      Melanjutkan pantun yang sesuai denan isinya.
Tujuan pembeajaran sastra atau hasil belajar sastra yang akan dicapai kelas 5 SD adalah berikut ini.
a.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran mendengarkan adalah:
         1)      Menanggapi isi cerita rakyat dari berbagai segi:
        2)      Menanggapi cerita pendek dalam berbagai segi:
b.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran berbicara adalah memerankan drama pendek dengan ekspresi yang sesuai.
c.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran membaca adalah membacakan puisi dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
d.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran menulis adalah:
        1)      Menulis pengalaman pribadi dalam bentuk prosa sederhana
       2)      Menuangkan gagasan dalam bentuk puisi

Tujuan pembeajaran sastra atau hasil belajar sastra yang akan dicapai kelas 6 SD adalah berikut ini.
 a.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran mendengarkan adalah memahami isi cerita dari berbagai segi dan menceritakan kembali dengan bahasa sendiri.
b.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran berbicara adalah berain peran drama anak dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang sesuai.
c.       Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran membaca adalah
         1)      Membaca novel anak, menjelaskan isi dengan lafal, dan menyimpulkan amanatnya
         2)      Memahami cerita rakyat, menentukan tokoh dan penokohan
         3)      Membaca cerita lama yang masih populer dengan gaya membaca yang menarik.
d.      Pembelajaran sastra yang terpadu dengan pembelajaran menulis adalah:
        1)      Membuat parafrase puisi dengan tetap mempertahankan makna puisi
        2)      Menyusun percakapan berdasarkan ilustrasi gambar.


KB 2 Model Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Fokus Sastra di SD
Pemilihan metode dan teknik harus melihat untuk tujuan apa bahan tersebut disiapkan. Anda dapat memilih beberapa conth kegiatan pembelajaran bahasa indonesia berfokus sastra yang menggunakan prosa sebagai bahan, seperti mendengarkan cerita, lalu bertanya jawab tentang proses tersebut, menirukan tokoh-tokoh yang ada dalam prosa tersebut atau melanjutkan ceritanya. Selanjutnya puisi juga dapat anda gunakan sebagai materi pembelajaran bahasa Indonesia.
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan fokus sastra adnda sajikan dengan berbagai variasi metode dan teknik pembelajaran, tetapi hal perlu anda ingat bahwa materi, metode dan teknik harus selalu anda perhatikan dan sesuaikan dengan tingkat usia dan anda harus ingat pula bahwa materi harus disesuaikan dengan perkembangan anak.
Materi pokok dalam pembelajaran sastra adalah cerita anak sedangkan hasil belajarnya adalah dapat menceritakan sendiri cerita yang didenarnya dengan menggunakan kata-kata sendiri. Pada kegiatan tersebut guru dapat membacakan cerita anak atau memperdengarkannya melalui audio kaset.
Materi pokok adalah puisi sedangkan hasil belajarnya adalah membuat parafrase puisi dengan tetap mempertahankan makna puisi. Kegiatan tersebut, dilakuakan dengan cara membagikan lembaran yang berisi puisi anak kemudian guru membacakannya. Setelah itu anak-anak diminta untuk membaca puisi tersebut.



PENGANTAR PENDIDIKAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Penulis yakin banyak rekan rekan mahasiswa yang membutuhkan Power Point dari mata kuliah ABK ini, makanya bagi rekan rekan mahasiswa UT ya...