Mendidik anak memang
suatu hal yang gampang-gampang sulit. Bila Anda sebagai orangtua mendidik anak
dengan benar, maka sang anak pun akan berkembang ke arah yang kita inginkan
baik secara fisik, mental, spiritual dan intelegensia. Namun bila sejak awal
Anda telah salah langkah dan tidak menyadari kesalahan tersebut, jangan heran
bila kelak kemampuan dan tumbuh kembang anak Anda tidak berkembang
seperti yang diharapkan.
Salah
satu cara yang kurang tepat dalam mendidik anak adalah menerapkan metode dengan
kekerasan. Hal ini biasanya Anda lakukan untuk mencoba menerapkan disiplin pada
sang anak atau memberi hukuman saat anak Anda melakukan kesalahan. Metode kekerasan
seperti ini sering ditemui pada keluarga yang orangtuanya merupakan aparat
penegak hukum seperti tentara atau polisi. Sepertinya, mereka melakukan hal
tersebut karena didasari oleh latar pekerjaan mereka yang mendapatkan
pendidikan keras ala militer sehingga berusaha menerapkannya juga pada keluarga
mereka.
Selain
latar belakang pekerjaan, kadang secara tidak sadar Anda juga bisa melakukan
kekerasan pada anak karena tidak mampu mengontrol emosi. Sebagai manusia, wajar
bila Anda suatu saat merasa emosi baik karena ada masalah di kantor maupun
stres karena kemacetan dan sebab-sebab lainnya. Hal tersebut terkadang membuat
Anda tidak mampu berpikir jernih dan khilaf dengan melakukan kekerasan pada
anak Anda saat mereka melakukan kesalahan.
Bila
Anda termasuk orangtua yang menerapkan disiplin dengan cara kekerasan,
sebaiknya Anda berpikir ulang mulai sekarang. Tidak semua anak mampu dididik
dengan cara keras, meskipun ada pula sebagian kecil yang mampu bertahan dengan
didikan ala militer tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mendidik
anak dengan kekerasan lebih banyak efek negatifnya dibandingkan dampak positif
yang dihasilkan.
Murray
Strauss, seorang peneliti dari New Hampshire University, Amerika Serikat,
melakukan penelitian terhadap 1.510 anak, baik yang mendapatkan perlakuan kasar
dari orangtuanya maupun tidak. Semua anak tersebut menjalani tes IQ pada saat
memulai penelitian dan pada akhir penelitian. 4 tahun kemudian atau di akhir
penelitian, Murray mendapatkan hasil bahwa anak-anak yang tidak mengalami
kekerasan di rumahnya mengalami peningkatan IQ antara 2,8 hingga 5 poin,
sementara IQ anak-anak yang mengalami kekerasan cenderung statis dan kesulitan
untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Penelitian
lain yang dilakukan oleh Duke University, Amerika Serikat, juga memperkuat
hasil penelitian di atas. Hasil penelitian di Duke menunjukkan bahwa anak-anak
balita yang sering mendapatkan perlakuan kasar cenderung memiliki IQ yang
rendah. Penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak berumur satu tahun yang
mengalami kekerasan dari orangtuanya tersebut ternyata membuat mereka memiliki
kemampuan kognitif yang lebih rendah setelah kembali diteliti dua tahun
kemudian dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan perlakuan kasar.
Selain
dalam hal IQ, ternyata perlakuan kasar orangtua dalam mendidik anak juga
berpengaruh terhadap perilaku dan tumbuh kembang anak di kemudian hari.
Sebuah penelitian mengenai kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh Tulane
University, Amerika Serikat, memaparkan fakta bahwa anak-anak berusia tiga
tahun yang sering mengalami kekerasan secara fisik dari orangtuanya akan
bersikap lebih agresif saat sang anak menginjak usia lima tahun. Perilaku
agresif tersebut akan meningkat sejalan dengan lebih seringnya kekerasan yang
dialaminya.
Mulai
dari sekarang, didiklah anak Anda dengan cara yang halus, karena tindakan
kekerasan yang dilakukan orangtua merupakan pengalaman yang traumatik bagi
anak. Semakin sering anak mendapatkan kekerasan, maka akan semakin lambat juga
perkembangan kemampuan mental mereka. Berbagai penelitian juga telah
menunjukkan bahwa kejadian yang traumatik akan berakibat buruk bagi otak.
Di
samping itu, trauma tersebut juga akan membuat anak Anda stres pada
kejadian-kejadian yang sulit dihadapi dan lebih jauh lagi akan berdampak buruk
pada perkembangan kognitifnya. Didikan yang terlalu keras juga akan menghambat
kreativitas dan kemampuan anak Anda untuk berpikir secara bebas, selain itu
juga anak Anda tidak terlatih untuk mengerahkan segenap kemampuan yang
dimilikinya.
No comments:
Post a Comment